
Foto oleh Diego Girón di Pexels
MENGUNGKAP KEDUSTAAN ATAS JALAN SALAF:
Bantahan Ilmiah terhadap Mazhab Tafwid dan Ta'wil dalam Memahami Sifat Allah
Pendahuluan Memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah (Asma' wa Sifat) adalah asas fundamental dalam keimanan Islam. Pemahaman yang benar harus bersumber dari jalan As-Salaf, yakni pemahaman Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya (tiga generasi awal umat Islam). Namun, seiring berjalannya waktu, muncul berbagai kelompok yang menyandarkan pemahaman keliru mereka kepada para Salaf. Dua penyimpangan utama yang sering dinisbatkan secara dusta kepada para Salaf adalah mazhab Ahlut Tafwid (menyerahkan/mengosongkan makna) dan Ahlut Ta'wil (menyimpangkan makna).
Artikel ini akan menguraikan secara gamblang mengapa klaim bahwa jalan Salaf adalah Tafwid merupakan sebuah kedustaan, serta membantah anggapan bahwa Ta'wil adalah metode yang lebih berilmu dan bijaksana.
Kesalahpahaman tentang "Thariqatus Salaf" (Jalan Para Salaf) Sebagian kelompok sering menggaungkan semboyan bahwa "Jalan para Salaf itu lebih selamat" (Thariqatus Salaf Aslam), namun yang mereka maksudkan bukanlah jalan hakiki Nabi ﷺ dan para sahabat. Mereka menyangka bahwa mazhab Salaf adalah mazhab Tafwid.
Tafwid dalam konteks ini adalah keyakinan yang mengklaim bahwa jika ada ayat atau hadis yang berbicara tentang sifat Allah, maknanya sama sekali tidak diketahui dan harus diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Mereka sering berkata, "Kita serahkan maknanya kepada Allah". Klaim bahwa para Salaf adalah mufawwidah (orang-orang yang melakukan tafwid terhadap makna) adalah sebuah kedustaan yang nyata.
Kebenaran: Al-Qur'an Diturunkan dengan Bahasa Arab yang Terang Allah ﷻ berfirman bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan bahasa Arab yang jelas:
بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ
"Dengan bahasa Arab yang jelas." (QS. Asy-Syu'ara: 195)
Karena Al-Qur'an dan Hadis disampaikan dengan lisan bahasa Arab yang gamblang, maka sangat tidak masuk akal jika kalimat-kalimat di dalamnya tidak memiliki makna yang bisa dipahami. Nabi ﷺ adalah orang yang paling fasih dan paling berilmu tentang Allah. Beliau dan para sahabat memahami ayat-ayat sifat dengan sangat baik secara bahasa, sehingga tidak mungkin mereka mengosongkan makna dari ayat-ayat tersebut. Bahkan, dalam perkara-perkara kecil terkait fikih saja para sahabat merujuk pada bahasa Arab, apalagi dalam perkara yang paling pokok dalam agama, yaitu mengenal Allah.
Sikap Hakiki Salaf: Isbat Makna dan Tafwid Kaifiyat Sikap para Salaf yang sebenarnya bukanlah menyerahkan makna (tafwid al-makna), melainkan menetapkan makna sesuai bahasa Arab (isbat), namun menyerahkan bagaimana hakikat/cara kerjanya (tafwid al-kaifiyat) kepada Allah.
Sebagai contoh yang konkret, perhatikan firman Allah ﷻ mengenai sifat kedatangan-Nya:
وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا
"Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris." (QS. Al-Fajr: 22)
Menurut para Salaf, makna "datang" (wa jaa'a) sudah dimaklumi dan jelas secara bahasa. Mereka tidak mempermasalahkan maknanya. Namun, apabila ditanya bagaimana (kaifiyat) kedatangan Allah, di sinilah para Salaf menyerahkan pengetahuannya (tafwid) murni hanya kepada Allah, karena akal manusia tidak mampu menjangkaunya.
Sebagai tambahan dalil (di luar sumber utama Anda) untuk menguatkan kaidah ini, kita dapat merujuk pada perkataan monumental dari Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas rahimahullah, ketika beliau ditanya tentang firman Allah:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
"(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam (Istiwa') di atas 'Arsy." (QS. Thaha: 5)
Imam Malik menjawab dengan kaidah emas yang dinukil oleh Imam Al-Lalika'i dalam kitab Syarh Usul I'tiqad Ahlis Sunnah wal Jama'ah (Juz 3, hal. 393):
الاِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ
"Istiwa' (bersemayam) itu maknanya maklum (diketahui dalam bahasa Arab), adapun kaifiyatnya (bagaimananya) tidak dapat dijangkau akal, beriman kepadanya adalah wajib, dan menanyakan tentang (bagaimana)-nya adalah kebid'ahan."
Perkataan Imam Malik ini selaras dengan penjelasan bahwa para Salaf menetapkan maknanya secara bahasa, dan tidak ada satupun kelompok Ahlut Tafwid yang benar dalam klaim mereka. Begitu pula terhadap ayat-ayat sifat lainnya, seperti sifat Tangan bagi Allah:
بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ
"Tetapi kedua tangan Allah terbuka..." (QS. Al-Ma'idah: 64)
Semua ayat ini dipahami maknanya tanpa perlu menyimpangkannya.
Kesesatan Mazhab Ta'wil (Menyimpangkan Makna) Di sisi lain, terdapat kelompok Mu'awwilah (Ahlut Ta'wil) yang merubah arti teks Al-Qur'an dari makna zahirnya. Jika kelompok pertama (Tafwid) mengatakan "kami berserah dan tidak tahu maknanya", kelompok kedua ini justru berkata, "Mazhab kami (khalaf/orang-orang belakangan) lebih berilmu dan lebih kokoh (a'lam wa ahkam)".
Mereka melakukan ta'wil (penyimpangan makna). Misalnya, terkait ayat kedatangan Allah di atas (QS. Al-Fajr: 22), mereka mengartikan "datang" sebagai "datangnya rahmat Allah" atau "datangnya keberkahan", bukan Zat Allah yang datang. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah membantah penyimpangan ini.
Bantahan atas tindakan ta'wil ini sangat rasional: Jika ayat tersebut perlu dimaknai dengan makna kiasan (seperti "yang datang adalah rahmat-Nya"), niscaya Nabi ﷺ yang paling fasih dan paling tahu tentang Allah sudah menjelaskannya. Karena Nabi ﷺ tidak men-ta'wil-nya, maka siapapun yang men-ta'wil sifat-sifat Allah pada hakikatnya telah melampaui batas dan berdusta atas nama Nabi ﷺ serta para sahabat. Oleh karena itu, tidak mungkin ada kelompok Ahlut Ta'wil yang berada di atas kebenaran dalam masalah ini.
Kesimpulan Jalan para Salaf adalah jalan pertengahan yang kokoh. Klaim bahwa Salaf adalah kaum Mufawwidah (yang tidak paham makna ayat sifat) adalah kedustaan besar yang merendahkan kefasihan Al-Qur'an dan ilmu para sahabat. Demikian pula klaim kaum Mu'awwilah yang menyombongkan diri bahwa metode Ta'wil mereka "lebih berilmu" adalah sebuah kesesatan yang melampaui batas keilmuan Nabi ﷺ.
Akidah yang benar adalah menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana yang tertulis dalam dalil yang jelas (isbat al-makna), tanpa menyimpangkan maknanya (tanpa ta'wil), tanpa menolak maknanya (tanpa ta'til/tafwid makna), dan menyerahkan sepenuhnya urusan tata cara atau realitasnya (tafwid al-kaifiyat) hanya kepada Allah ﷻ.
Wallahu a'lam bishawab.
Sampai disini dulu... Baarakallahu fiikum.