Keseimbangan Antara Bekerja dan Beribadah: Memaknai Hakikat Rezeki dalam Islam

Di era modern, banyak umat Islam menghadapi dilema antara bekerja di lingkungan yang menjaga nilai-nilai sunah namun dengan gaji minim, atau bekerja di lingkungan korporat dengan gaji besar namun rawan akan ikhtilat (campur baur pria dan wanita) dan melalaikan kewajiban agama. Menjawab permasalahan ini, kita perlu menyamakan persepsi terlebih dahulu mengenai esensi bekerja, hakikat rezeki, dan tujuan penciptaan manusia di dunia.

1. Hakikat Bekerja dan Tujuan Kehidupan Pekerjaan yang kita jalani saat ini, disadari atau tidak, hakikatnya hanyalah sarana agar jasad kita bisa bertahan hidup (survive) sampai usia kita berakhir. Sayangnya, lingkungan sering kali merusak pola pikir kita, seakan-akan pekerjaan adalah inti dan akhir dari tujuan kehidupan. Akibatnya, banyak orang yang rela berjuang mati-matian, bahkan hingga mengorbankan agamanya—seperti meninggalkan salat atau bagi wanita melepas hijabnya—hanya demi memenuhi tuntutan kantor.

Padahal, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman mengenai hakikat penciptaan manusia:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Ad-Dzariyat: 56).

Bekerja secara profesional memang dituntut, namun kita tidak boleh lupa bahwa dunia ini fana. Kematian bisa datang kapan saja, bahkan kepada orang yang sedang sibuk mengejar karirnya, sehingga sungguh merugi jika Allah mewafatkan kita saat kita sedang lalai terhadap agama.

2. Memaknai Harta dan Menghindari Jebakan Gaya Hidup Sering kali yang membuat manusia merasa gajinya tidak cukup bukanlah kebutuhan dasarnya, melainkan gaya hidupnya (lifestyle). Kebutuhan manusia sesungguhnya sangat sederhana. Dalam Sahih Muslim, Rasulullah ﷺ memberikan pandangan yang sangat tajam mengenai hakikat harta yang sering dibangga-banggakan oleh manusia.

Dari sahabat Abdullah bin asy-Syikhkhir radhiyallahu 'anhu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي، قَالَ: وَهَلْ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟

"Anak Adam (manusia) selalu berkata, 'Hartaku, hartaku!' Nabi bersabda, 'Wahai anak Adam, apakah engkau memiliki dari hartamu selain dari apa yang engkau makan lalu habis, apa yang engkau pakai lalu usang, atau apa yang engkau sedekahkan lalu menjadi simpananmu (di akhirat)?'".

Hadis ini menegaskan bahwa segala aset atau pencapaian di luar tiga hal tersebut pada akhirnya hanya digunakan untuk mencari validasi dan kebanggaan di mata manusia. Jika kita menyadari hal ini, kita tidak akan mengorbankan agama demi gaji yang lebih besar hanya untuk memuaskan gaya hidup semu.

3. Keteladanan Salaf: Konsep Tawakal Hatim Al-Asam Seorang ulama salaf bernama Hatim Al-Asam memiliki prinsip yang sangat indah dalam menyeimbangkan antara mencari nafkah dan beribadah. Beliau diriwayatkan hanya bekerja beberapa jam di pagi hari, dan sisanya difokuskan penuh untuk beribadah kepada Allah. Ketika ditanya bagaimana ia bisa memiliki konsep hidup yang tenang (slow) sementara orang lain bekerja dari pagi hingga asar untuk memastikan tabungan mereka aman berpuluh-puluh tahun ke depan, beliau menjawab dengan dua prinsip emas:

عَلِمْتُ أَنَّ رِزْقِي لَا يَأْكُلُهُ غَيْرِي فَاطْمَأَنَّ بِهِ قَلْبِي، وَعَلِمْتُ أَنَّ عَمَلِي لَا يَقُومُ بِهِ غَيْرِي فَاشْتَغَلْتُ بِهِ

"Aku yakin dan sadar bahwa rezekiku tidak akan dimakan oleh orang lain, maka tenanglah hatiku. Dan aku sadar bahwa amalanku (sebagai bekal menuju Allah) tidak akan pernah bisa diwakilkan oleh orang lain, maka aku pun sibuk beramal."

Konsep ini mengajarkan bahwa pekerjaan hanyalah sarana atau sebab datangnya rezeki. Jika kita bertawakal, rezeki yang sudah ditetapkan tidak akan tertukar. Jika hari ini kita sudah memiliki pekerjaan yang mampu mencukupi kebutuhan pokok (survive) dan di dalamnya kita bisa menjaga agama (bisa salat tepat waktu dan tidak ada ikhtilat), maka bertahanlah dan bersyukur, kecuali jika ada kesempatan di tempat lain yang lebih baik gajinya dengan lingkungan yang sama-sama menjaga agama.

Kesimpulan Janganlah mengorbankan nilai-nilai syariat demi mengejar materi dan karir yang semu. Ingatlah bahwa semakin keras kita bekerja hingga melupakan Allah, seringkali bos atau perusahaan kitalah yang semakin kaya, sementara kita hanya digaji dengan jumlah yang sama. Fokuslah pada bekal amal kita, penuhi kebutuhan secukupnya, dan jadikan ibadah sebagai prioritas utama dalam sisa waktu yang kita miliki.

Wallahu a'lam bishawab.
Sampai disini dulu... Baarakallahu fiikum.