
Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Yang pertama, kepada ikhwan dan akhwat untuk memperhatikan bahwasanya ilmu adalah ibadah. Sebagaimana kalau kita baca al-Qur'an kita merasa sedang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, kalau kita sedang salat, kita merasa sedang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, kalau kita sedang puasa, kita merasa sedang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka kalau kita menuntut ilmu, hendaknya kita merasa sedang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena terlalu banyak dalil yang menunjukkan ilmu adalah ibadah yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di antaranya seperti sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah buat dia fakih (paham) tentang agama."[1]
Oleh karenanya, kalau orang cinta dengan ilmu, tanda bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintainya, Allah ﷻ menghendaki kebaikan baginya. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala membuat dia cinta kepada ilmu, Allah Subhanahu wa Ta'ala membuat dia sabar dalam menuntut ilmu, Allah Subhanahu wa Ta'ala membuat dia betah dalam majelis ilmu. Ini tanda bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala menghendaki kebaikan baginya. Di antaranya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة
"Barang siapa yang menempuh satu perjalanan untuk menuntut ilmu, Allah akan mudahkan jalannya menuju surga."[2]
Ini dalil bahwasanya ilmu adalah jalan termudah untuk meraih surga. Banyak jalan menuju surga. Tetapi jalan yang tercepat kata sebagian ulama untuk meraih surga adalah menuntut ilmu. Kenapa bisa demikian? Karena dengan ilmu akan terbuka wacana-wacana tentang amal saleh tentang hal-hal yang diharamkan untuk dijauhi. Dan ilmu sendiri itu adalah merupakan ibadah yang mengantarkan kepada surga. Bahkan Allah ﷻ menganggap ilmu adalah jihad. Dalam al-Qur'an, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
فَـلاَ تَطِعِ الْكَـفِـرِيْنَ وَجَـهِـدْ هُمْ بِهِ جِهَـادًا كَبِيْرًا
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir (wahai Muhammad), dan berjihadlah melawan mereka dengan al-Qur’an dengan jihad yang besar.”[3]
Ayat ini turun ketika masih di fase Mekah, di mana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam belum diwajibkan untuk berjihad dengan pedang. Tapi Allah Subhanahu wa Ta'ala menaruh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berjihad dengan al-Qur'an, yaitu dengan ilmu. Tapi menyuruh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berjihad dengan al-Qur'an, yaitu dengan ilmu. Sama ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala menyuruh berjihad dengan orang munafik. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
...يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ جَٰهِدِ ٱلْكُفَّارَ وَٱلْمُنَٰفِقِينَز
"Wahai Nabi berjihadlah melawan orang-orang kafir dan melawan orang-orang munafik."[4]
Kita tahu namanya orang munafik tidak boleh dibunuh karena KTP-nya Islam. Terus bagaimana berjihad dengan orang munafik? Yaitu dengan ilmu, membantah syubhat-syubhat mereka, membantah kerancuan pemikiran mereka. membantah kerancuan pemikiran mereka. jadi Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan bahwasanya ilmu adalah salah satu bentuk jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan kita lihat sekarang di zaman sekarang, bagaimana Islam tersebar bukan dengan pedang, tetapi Islam tersebar dengan ilmu. Banyak dai banyak kaum muslimin di negara-negara kafir sana yang terus menyampaikan Islam dengan ilmu, membantah syubhat-syubhat sehingga penyebaran Islam tidak bisa dibendung. Semakin tersebar di mana-mana. Negara-negara non muslim setiap hari orang masuk Islam. ini adalah salah satu bukti bahwasanya ilmu adalah jihad. Oleh karenanya, Allah Subhanahu wa Ta'ala menggandengkan jihad dengan ilmu dalam firman-Nya:
وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ...ـ
"Tidak pantas bagi orang-orang beriman untuk seluruhnya pergi berjihad di jalan Allah. Harus ada dari setiap kelompok, sekelompok orang yang menuntut ilmu. Tujuannya apa? Agar memberi peringatan kepada kaumnya jika kembali kepada mereka agar mereka waspada."[5]
Di sini Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan tidak pantas semua orang-orang beriman untuk berjihad. Harus ada sebagian menuntut ilmu. Maka perlu jihad dengan pedang dan perlu jihad dengan lisan. Allah Subhanahu wa Ta'ala menggandengkan jihad dengan pedang, dengan menuntut ilmu, ini menunjukkan tentang agungnya menuntut ilmu. di antara dalil bahwasanya ilmu adalah ibadah, Allah ﷻ menamakan ilmu dengan dzikir. Di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ...ـ
"ةaka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui," [6]
Yaitu orang-orang yang suka berzikir, maksudnya di sini bukan orang tukang berzikir, tapi maksudnya orang berilmu. Allah Subhanahu wa Ta'ala menamakan ilmu dengan zikir. Karena tempat bertanya kita kepada para ulama, Allah Subhanahu wa Ta'ala menamakan para ulama dengan ahli zikir. Kenapa? Karena menuntut ilmu itu sendiri kita sedang mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala apa pun yang kita pelajari. Tauhid, kita sedang mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ilmu fikih, kita sedang mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tentang adab, kita ingat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Apa pun yang kita pelajari dari agama Allah ﷻ, kita sedang mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka menuntut ilmu adalah zikir, zikrullah. Di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala tentang salat Jumat. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ
"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."[7]
Apa yang dimaksud zikrullah? Para ulama rata-rata mengatakan maksudnya adalah khotbah Jumat. Khotbah Jumat dikatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, zikrullah, bukan salatnya dalam ayat ini. Tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala sedang berbicara tentang khutbah jumat. Kenapa khotbah Jumat? Isinya ilmu. Mendengarkan ilmu berarti sedang zikrullah. Ini menunjukkan bahwasanya ilmu adalah ibadah. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala mengangkat orang yang berilmu tinggi derajatnya. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
"Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat."[8]
Jadi orang beriman diangkat derajatnya, orang berilmu diangkat berapa derajat di atas orang yang beriman. Dan tidak mungkin seorang diangkat derajatnya kecuali dia beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Terlalu banyak dalilnya yang menunjukkan bahwasanya ilmu itu agung. Makanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah disuruh oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk minta tambahan kecuali tambahan ilmu. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا...
"Dan katakanlah (Muhammad): "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan."[9]
Jadi ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengukuhkan hati kita untuk terus menuntut ilmu. Karena ini kita sedang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, bahkan ibadah yang agung. Ibadah yang memudahkan kita untuk meraih surga Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jadi kita ketika menuntut ilmu, kita hadirkan dalam diri kita: "Saya sedang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala."
Wallahu a'lam bishawab.
Cukup sampai di sini dulu... Baarakallahu fiikum.
Cukup sampai di sini dulu... Baarakallahu fiikum.
***
Tulisan ini awalnya berbentuk video kemudian dijadikan artikel yang sudah diperbaiki.
Versi video silakan klik di sini
Sumber Artikel: ronalabiyyu.my.id
[2] HR. Muslim
[3] QS. al-Furqan ayat 52
[4] QS. at-Taubah ayat 73
[5] QS. at-Taubah ayat 122
[6] QS. an-Nahl ayat 43
[7] QS. al-Jumu’ah ayat 9
[8] QS. al-Mujadalah ayat 11[9] QS. Thaha Ayat 114